TNI DAN POLRI BAKSOS DI AREA BENCANA IAIN AMBON

Aparat gabungan dari TNI dan Polri melakukan kerja bakti di area bencana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, Rabu, 19 Juni 2019. Puluhan anggota TNI dan Polri tersebut menutup retakan tanah di sepanjang area patahan, untuk menutup jalur air yang akan masuk ke area patahan saat musim hujan. Sebab, kalau tidak ditutup, maka airnya akan masuk ke dalam tanah dan menyebabkan patahan menjadi besar.

Pantauan Rakyat Maluku di lapangan, puluhan anggota TNI dan Polri tersebut memindahkan tanah yang diangkut dengan mobil dam truk milik Kantor Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Maluku. Tanah yang diangkut tersebut, kemudian dipindahkan ke retakan-retakan yang terbentuk saat patahan tanah.
Kerja bakti ini mendapatkan pengawalan langsung dari Kabag Ops Polres Pulau Ambon dan Pp Lease, AKP Amin La Muhammad, dan Kasat Shabara Polres Pulau Ambon dan Pp Lease, AKP Syarifuddin.
Menurut AKP Syarifuddin, kerja bakti ini melibatkan aparat gabungan TNI dan Polri sebanyak kurang lebih 127 orang. Anggota TNI dan Polri tersebut memindahkan tanah yang diangkut dengan mobil ke seluruh area yang mengalami keretakan. Kerja bakti dipusatkan di belakang dan samping gedung Rektorat IAIN Ambon yang terdampak patahan.
Ia menjelaskan, kerja bakti ini dilakukan sesuai arahan dari Ketua Tim Mitigasi Bencana IAIN Ambon, yang juga Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Maluku, Ismail Usemahu. Diakui Syarifuddin, pekerjaan ini tidak sulit bagi mereka, hanya karena terbatas dengan fasilitas yang tersedia untuk mengangkut tanah sehingga prosesnya berjalan lambat. Untuk sementara, lanjut dia, apabila penutupan rekahan-rekahan tanah ini dapat diselesaikan sehari kemarin, maka untuk ke depan pihaknya hanya akan kembali untuk melakukan pemantauan perkembangannya. Ia berharap, usaha yang sudah dilakukan ini dapat mengurangi dampak ke depan. "Apabila dapat dikerjakan selesai hari ini, maka besok hanya untuk memantau perkembangannya yang sudah ditutup tersebut. Untuk proses pengerjaannya tidak sulit, namun karena kondisi alam, sehingga teman-teman agak lambat dalam menyelesaikannya."
Sementara itu, Rektor IAIN Ambon, Dr. Hasbollah Toisuta, dari tempat yang sama menjelaskan, kerja bakti yang dikoordinir langsung oleh Kadis PU Maluku selaku Ketua Tim Mitigasi Bencana IAIN Ambon ini, sudah berlangsung untuk kedua kalinya. Pertama dilakukan pada tanggal 10 Juni 2019 setelah bencana. Selanjutnya, kerja bakti kemarin dilakukan untuk menutup rekahan-rekahan atau patahan tanah, sehingga tidak terbentuk dan menjadi saluran air. Sebab, kalau tidak ditutup maka ketika hujan, dampaknya akan semakin melebar. Sebab itu, ini merupakan salah satu cara yang harus dilakukan untuk tanggap sekarang, selain kemudian ditutup dengan terpal sesuai arahan dari tim ahli.

Mereka yang terlibat dalam Tim Penanganan Bencana di IAIN Ambon sendiri, lanjut Rektor, mulai dari unsur TNI dan Polri, BNPB, BPBD, tim ahli dari Kementerian PUPR, tim dari PU Maluku, maupun Pemkot Ambon. Sementara untuk mengetahui kontur dan kondisi retakan tanah dan dampaknya ke depan, maka telah diturunkan Tim Ahli dari Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Untuk hasil dari penelitian para ahli sendiri, akui Rektor, sampai saat ini belum dikeluarkan, baik dari Tim Geologi maupun Litbang PU.
Rektor juga menjelaskan, apabila dalam waktu dekat sudah ada rekomendasi untuk kondisi bencana di IAIN Ambon dari para ahli, maka selanjutnya rekomendasi itu akan menjadi rujukan atau pegangan bagi IAIN Ambon dalam pembangunan. Apabila rekomendasinya harus mengosongkan dan tidak boleh ada aktifitas masyarakat terkhususnya civitas akademika IAIN Ambon pada gedung-gedung yang ada di atas bukit, maka keputusan itu akan dilaksanakan. Termasuk, lanjut Rektor, apabila tim merekomendasikan agar tidak boleh ada aktifitas pembangunan di atas dan area bebukitan. "Terpenting, bagaimana menyelamatkan aset-aset atau gedung-gedung yang ada di wilayah IAIN Ambon, terkhusus di puncak agar dapat terjaga. Kalau ternyata sudah dianggap jenuh, khususnya daerah perbukitan, maka akan dijadikan sebagai kawasan terbuka hijau," jelas Rektor.

Sementara untuk menyelamatkan gedung-gedung yang masih berdiri dan dapat dimanfaatkan sesuai arahan para ahli termasuk dari Tim Geologi, kata Rektor, pihaknya akan memprioritaskan dua hal terpenting. Pertama, penataan sistem drainase yang betul-betul terintegrasi secara baik, dan kedua, membenahi sistem penahan tanah berupa dinding penahan tanah yang betul-betul kokoh. Penahan tanahpun baru dapat dilakukan setelah ada kajian dan analisis dari tim ahli di PU sesuai hasil survei kelayakannya nanti.
Sekadar diketahui, untuk aktifitas di perpustakaan dan seluruh gedung-gedung yang telah dikosongkan, termasuk Gedung Rektorat IAIN Ambon, kata Rektor, telah dipindahkan ke gedung-gedung yang masih kosong dan aman dari bencana. Misalnya, untuk Perpustakaan dipindahkan ke Gedung Training Centere, sementara untuk aktifitas pegawai Rektorat dipindahkan ke Gedung Studen Centere, sebaliknya untuk PDPT dipindahkan ke Gedung Sosiologi Agama atau gedung kembar, dan Pascasarjana dipindahkan ke Laboratorium Komunikasi Massa Fakultas Ushuluddin dan Dakwah. (***)

Views: 25